Ketika masih kecil, semua kita pasti ditanya oleh orang tua, orang lain, atau siapa saja, apa cita-citamu? Pasti di antara kita jawab, jadi presiden, dokter, tentara, polisi dan semua pekerjaan yang sekarang ini bisa dilihat langsung secara visual. Semasa kecil kita tidak pernah mempunyai bayangan untuk menjadi pengacara, wartawan, atau semua pekerjaan yang berhubungan dengan jasa. Dan, sungguh sangat menyesal karena adanya ekonomi misalnya seseorang tidak bisa menjadi dokter karena biaya sekolahnya mahal hal ini menimbulkan kekecewaan dan frustasi
Ketika itu kita tidak pernah disiapkan untuk menerima hal-hal yang disebut faktor "x" atau faktor yang tidak terduga yang menimbulkan hal negatif. Banyak temen-temen kita yang pintar di sekolahnya sekarang malah tidak bekerja, atau bekerja juga tapi tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dan memang lapangan pekerjaan di bangsa kita, tidak sebanding dengan jumlah orang yang mau bekerja atau yang siap kerja.
Pernahkah anda di tanya, setelah lulus kuliah, sekolah atau apa saja mau bekerja dimana? atau mau bekerja sebagai apa? Biasanya kalau masih idealis (tahun-tahun pertama sampai ketiga setelah lulus), maka dengan semangat kita ingin kesana, kesini dsb. Namun kembali tragis menimpa kita, ternyata setelah kita kesampaian ke tempat kerja tersebut malah kena PHK. Atau impian kita tidak pernah kesampaian karena sebelum masuk kerja ada "uang siluman", pengalaman penulis ketika itu lulus ujian pertama di PLTU Semarang, ada "uang siluman" yang harus di setor. Akhirnya kandas juga saya pada waktu itu, karena orang tua saya tidak mempunyai "uang siluman" itu.
Saya tidak mengkredibilitaskan perusahaan tersebut diatas, ada juga instansi pemerintah yang terang-terangan minta uang siluman kepada setiap pendaftar antara 30-60 juta. Tanpa saya sebutkan apa instansi pemerintah itu, pasti saudara udah tau. Hidup memang kejam men!!!
Yang menarik adalah mengapa setiap lulusan-lulusan di berbagai universitas, atau sekolah-sekolah lain tidak ada yang di arahkan untuk menjadi wiraswasta/entreprenaurship. Inilah yang saya maksud the thinks smart be result the smart works. Hambatan pertama yang harus dihapadi adalah modal. Modal disini bisa saja uang untuk biaya set up, besar kecilnya tergantung dari rencana awal wiraswasta.
Di sekitar kita banyak kita temukan kios tempat penjualan pulsa nah ini bisnis yang dimulai dari modal kecil namun hasilnya bisa maksimal, ada juga rental komputer, rental PS2, rental warnet ini juga termasuk bisnis yang bisa dimulai dengan modal yang sedang. Kalau anda hobi masak, nah akan lebih baik tersalurkan jika anda mulai belajar buka warung nasi uduk kecil-kecilan, jika sudah cukup modal anda bisa menjadi warung makan dst. Jika anda hobi main musik, anda dapat menjadi pemain organ tunggal, pemain gitar, bikin grup band kemudian sering-seringlah mengikuti berbagai kompetisi.
Berbagai kreativitas dapat kita ciptakan apalagi kalau kita tekuni (fokus) maka masa depan dapat kita raih. Pertama kita harus bentuk mind set kita, melatihnya terus sehingga mencapai hasil yang baik, ingat pencipta lampu itu telah melakukan percobaan hampir 1000 kali. Yang kedua, rajin-rajinlah membaca berbagai buku ilmu pengetahuan. Belajar itu tidak pernah mengenal umur. Di negara barat ada sebuah kisah nyata, gara-gara seorang nenek yang berumur 60 tahun sudah tidak bisa mengangkat barang belanjaanya ia kemudian berlatih barbel di tempat fitnes sampai otot-ototnya terbentuk. Pelatihnya menganjurkan ia untuk mengikuti berbagai lomba binaraga, sampai akhirnya ia menjadi juara dunia. Yang ketiga, pompa jiwa anda dengan mengucapkan hal-hal yang positif, hal ini akan memacu motivasi anda. Jika anda biasa berkata, mati aku, sial, dan berbagai hal negatif maka hal itu akan membuat anda ada dalam lingkaran setan yang susah untuk membangkitkan jiwa anda.
Hidup anda sangat berharga, raihlah hidup anda, jangan di hancurkan oleh pikiran negatif, ubah dengan berpikir smart. Merdeka
Selasa, 19 Agustus 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar