Jaman dulu ada sebuah kerajaan yang ingin memperluas kerajaannya dengan menyerbu kerajaan lain dengan mengalahkannya lewat peperangan. Sebelum kerajaan tersebut menyerang, sang Raja telah mengirim utusan kepada kerajaan yang akan diserang. Utusan itu bertujuan untuk memperingatkan kepada raja kedua agar dia menyerah terlebih dahulu sebelum diserang. Ketika utusan raja yang akan menyerang tersebut datang, raja kedua langsung merasakan keringat dingin membahasi sekujur tubuhnya. Konon raja yang akan menyerang itu selalu menang perang karena memiliki panglima perang yang hebat, strategi yang hebat dan bala tentara yang besar jumlahnya.
Jika anda jadi raja yang kedua, apa yang akan anda perbuat? Di tangan anda tergantung nasib bangsa, keputusan yang anda buat akan membawa pengaruh yang besar.
Dalam kita mengambil keputusan yang urgen sangat diperlukan untuk berpikir strategis. Perlu memetakan mindset pola pikir kita agar dapat mengambil keputusan tentu saja di dalam kuadran prompt (penting) dan kuadran harus.
Jumat, 08 Agustus 2008
Kamis, 07 Agustus 2008
Memberi dan menerima
Tut tut siapa hendak turut
ke Bandung Surabaya
bolehlah naek dengan percuma
keretaku tak berhenti lama....
Ini adalah sepenggal bait lagu anak-anak yang pasti seluruh anak di Indonesia mengetahuinya. Nah kita semuapun orang dewasa pernah mengajari lagu tersebut kepada anak-anak kita. Sewaktu kita mengajarkan lagu tersebut tanpa sadar kita mengajarkan kepada anak-anak mentalitas yang salah yaitu mentalitas menerima atau mentalitas gratisan.
Ketika kita dewasa, tanpa sadar pula mentalitas tersebut sudah meresap ke dalam mindset kita bagian dalam. Seolah-olah menerima segala sesuatu dengan gratis itu adalah wajib diberikan semua orang bagi kita. Coba tengok ke kampanye di pilkada, pasti ada yang di tawarkan program gratisan; misalnya pendidikan gratis (tapi buku harganya melambung tinggi), pengobatan gratis (tapi banyak rumah sakit yang menolak kartu gakin). Contoh lain adalah subsidi BBM, berapa banyak orang yang protes di seluruh Indonesia ketika BBM naik atau yang artinya subsidi BBM dari pemerintah dikurangi. Tentu saja bukan berarti saya haram dengan hal-hal gratisan, hal itu perlu tapi tidak akan mendidik mentalitas bangsa kita.
Bangsa kita terlalu banyak di imingi-imingi hal yang berbau enak sehingga menina bobokan mentalitas kita. Mentalitas itu perlu dibangun. Mentalitas itu perlu di latih, ibarat bayi yang baru belajar merakak, berdiri, berjalan tertatih-tatih, sampai ia bisa berlari dengan teman-temannya. Mentalitas yang perlu untuk bangsa kita adalah mentalitas memberi. Memberi atau give bukan berarti harus memberi uang, barang.
Jika kita belum bisa memberi kepada orang lain, yang berupa barang, uang dan jasa, kita bisa memberi kepada orang lain apa yang kita punya dalam hidup kita. Kita dapat tersenyum, kita dapat bersikap yang baik, kita dapat bermuka yang cerah ketika bertemu pandang dengan orang lain siapa pun dia tanpa membedakan status, agama, ras, suku. Kita dapat mempersilahkan orang lain lebih dulu ketika mereka kelihatan buru-buru mau melewati kita, kita dapat mempersilahkan orang lain untuk duduk di bangku di bus way. Kita dapat mengantri bensin dan solar dengan tersenyum ketika ada orang lain menyerobot tempat kita. Ketika kita memberi suatu hal yang positif kepada orang lain itu menurut teori kedokteran dari dalam tubuh kita keluar endorfim yaitu suatu zat atau hormon gembira yang berguna untuk kesehatan kita.
Mentalitas memberi adalah mentalitas yang menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian, kita hidup berkelompok dan berkomunitas. Mentalitas memberi itu berarti kita tidak akan menuntut hak kita tetapi menyerahkan hak kita. Mentalitas memberi itu berarti kita mengutamakan orang lain daripada kepentingan kita. Mentalitas memberi itu sakit, artinya kita mengorban sesuatu yang mungkin kita senangi atau yang kita punya untuk orang lain. Mentalitas memberi itu akan memberi yang terbaik bukan memberi yang sisa-sisa atau memberi yang bekas.
Dalam hati nurani kita pasti akan lebih berbahagia jika memberikan sesuatu kepada orang lain, bukan hanya materi saja, daripada kita meminta dan menuntut. Pastikan kita belajar untuk hidup memberi. Jangan tanya kepada negara apa yang akan negara beri buat kita, tetapi apa yang dapat kita berikan kepada negara. Merdeka.
ke Bandung Surabaya
bolehlah naek dengan percuma
keretaku tak berhenti lama....
Ini adalah sepenggal bait lagu anak-anak yang pasti seluruh anak di Indonesia mengetahuinya. Nah kita semuapun orang dewasa pernah mengajari lagu tersebut kepada anak-anak kita. Sewaktu kita mengajarkan lagu tersebut tanpa sadar kita mengajarkan kepada anak-anak mentalitas yang salah yaitu mentalitas menerima atau mentalitas gratisan.
Ketika kita dewasa, tanpa sadar pula mentalitas tersebut sudah meresap ke dalam mindset kita bagian dalam. Seolah-olah menerima segala sesuatu dengan gratis itu adalah wajib diberikan semua orang bagi kita. Coba tengok ke kampanye di pilkada, pasti ada yang di tawarkan program gratisan; misalnya pendidikan gratis (tapi buku harganya melambung tinggi), pengobatan gratis (tapi banyak rumah sakit yang menolak kartu gakin). Contoh lain adalah subsidi BBM, berapa banyak orang yang protes di seluruh Indonesia ketika BBM naik atau yang artinya subsidi BBM dari pemerintah dikurangi. Tentu saja bukan berarti saya haram dengan hal-hal gratisan, hal itu perlu tapi tidak akan mendidik mentalitas bangsa kita.
Bangsa kita terlalu banyak di imingi-imingi hal yang berbau enak sehingga menina bobokan mentalitas kita. Mentalitas itu perlu dibangun. Mentalitas itu perlu di latih, ibarat bayi yang baru belajar merakak, berdiri, berjalan tertatih-tatih, sampai ia bisa berlari dengan teman-temannya. Mentalitas yang perlu untuk bangsa kita adalah mentalitas memberi. Memberi atau give bukan berarti harus memberi uang, barang.
Jika kita belum bisa memberi kepada orang lain, yang berupa barang, uang dan jasa, kita bisa memberi kepada orang lain apa yang kita punya dalam hidup kita. Kita dapat tersenyum, kita dapat bersikap yang baik, kita dapat bermuka yang cerah ketika bertemu pandang dengan orang lain siapa pun dia tanpa membedakan status, agama, ras, suku. Kita dapat mempersilahkan orang lain lebih dulu ketika mereka kelihatan buru-buru mau melewati kita, kita dapat mempersilahkan orang lain untuk duduk di bangku di bus way. Kita dapat mengantri bensin dan solar dengan tersenyum ketika ada orang lain menyerobot tempat kita. Ketika kita memberi suatu hal yang positif kepada orang lain itu menurut teori kedokteran dari dalam tubuh kita keluar endorfim yaitu suatu zat atau hormon gembira yang berguna untuk kesehatan kita.
Mentalitas memberi adalah mentalitas yang menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian, kita hidup berkelompok dan berkomunitas. Mentalitas memberi itu berarti kita tidak akan menuntut hak kita tetapi menyerahkan hak kita. Mentalitas memberi itu berarti kita mengutamakan orang lain daripada kepentingan kita. Mentalitas memberi itu sakit, artinya kita mengorban sesuatu yang mungkin kita senangi atau yang kita punya untuk orang lain. Mentalitas memberi itu akan memberi yang terbaik bukan memberi yang sisa-sisa atau memberi yang bekas.
Dalam hati nurani kita pasti akan lebih berbahagia jika memberikan sesuatu kepada orang lain, bukan hanya materi saja, daripada kita meminta dan menuntut. Pastikan kita belajar untuk hidup memberi. Jangan tanya kepada negara apa yang akan negara beri buat kita, tetapi apa yang dapat kita berikan kepada negara. Merdeka.
Selasa, 05 Agustus 2008
Inovation Thought
Anugerah dari Sang Pencipta kepada manusia adalah kita diberi otak untuk berpikir. Selayaknya kita patut bersyukur kepada Sang Pencipta, bahwa kita bukanlah melakukan segala sesuatu karena insting.
Berpikir adalah (intisari, bahan dasarnya, asal muasal dan dasar) dari segalanya. Bangsa kita memang bangsa yang besar namun bangsa kita jarang memaksimalkan pikiran (otak) untuk hal-hal yang positif sehingga bisa menjadi negara yang mampu bersaing di dunia industri.
Apa yang dipikirkan oleh orang itulah ia. Jadi jika kita mengarahkan pikiran kita kepada hal yang positif kita akan menuai kebiasaannya berpikir positif. Dari kebiasaan tersebut kita menuai sikap hati / attitude. Nah, karena sikap hati kita yang positif maka kita akan menuai masa depan yang cerah. Hal ini berlaku juga sebaliknya. Jika kita tiap hari menaburkan dalam pikiran kita tentang ketakutan dan kuatir tentang masa depan, lalu ketika ada kesempatan dalam kesempitan timbulah pikiran untuk menguasai milik orang lain.
Beberapa tahun yang lalu di kolom "believe it or not" nya Ripley's pada sebuah surat kabar muncul tulisan : sebatang besi berharga 5 dolar. Jika anda menempa besi itu menjadi sepatu kuda, nilainya meningkat menjadi 10,5 dolar. Jika besi itu dibuat jarum, nilainya meningkat menjadi 3.285 dolar. Dan jika anda membuat per jam dari besi tersebut maka nilainya menjadi 250.000 dolar. Perbedaan antara 5 dolar dan 250.000 dolar itulah yang dimaksud dengan apa itu kreativitas yang semuanya bermuara pada pikiran manusia!
Berpikir adalah (intisari, bahan dasarnya, asal muasal dan dasar) dari segalanya. Bangsa kita memang bangsa yang besar namun bangsa kita jarang memaksimalkan pikiran (otak) untuk hal-hal yang positif sehingga bisa menjadi negara yang mampu bersaing di dunia industri.
Apa yang dipikirkan oleh orang itulah ia. Jadi jika kita mengarahkan pikiran kita kepada hal yang positif kita akan menuai kebiasaannya berpikir positif. Dari kebiasaan tersebut kita menuai sikap hati / attitude. Nah, karena sikap hati kita yang positif maka kita akan menuai masa depan yang cerah. Hal ini berlaku juga sebaliknya. Jika kita tiap hari menaburkan dalam pikiran kita tentang ketakutan dan kuatir tentang masa depan, lalu ketika ada kesempatan dalam kesempitan timbulah pikiran untuk menguasai milik orang lain.
Beberapa tahun yang lalu di kolom "believe it or not" nya Ripley's pada sebuah surat kabar muncul tulisan : sebatang besi berharga 5 dolar. Jika anda menempa besi itu menjadi sepatu kuda, nilainya meningkat menjadi 10,5 dolar. Jika besi itu dibuat jarum, nilainya meningkat menjadi 3.285 dolar. Dan jika anda membuat per jam dari besi tersebut maka nilainya menjadi 250.000 dolar. Perbedaan antara 5 dolar dan 250.000 dolar itulah yang dimaksud dengan apa itu kreativitas yang semuanya bermuara pada pikiran manusia!
Langgan:
Entri (Atom)

